DELIK ADUAN

Delik Aduan

Istilah delik aduan (klacht delict), ditinjau dari arti kata klacht atau pengaduan berarti tindak pidana yang hanya dapat dilakukan penuntutan setelah adanya laporan dengan permintaan untuk dilakukan penuntutan terhadap orang atau terhadap orang tertentu.

Pada delik aduan, jaksa hanya akan melakukan penuntutan apabila telah ada pengaduan dari orang yang menderita, dirugikan oleh kejahatan tersebut. Pengaturan delik aduan tidak terdapat dalam Buku ke I KUHP, tetapi dijumpai secara tersebar di dalam Buku ke II. Tiap-tiap delik yang oleh pembuat undang-undang dijadikan delik aduan, menyatakan hal itu secara tersendiri, dan dalam ketentuan yang dimaksud sekaligus juga ditunjukan siapa-siapa yang berhak mengajukan pengaduan tersebut.

Pembentuk undang-undang telah menyaratkan tentang adanya suatu pengaduan bagi delik tertentu. Adapun sebabnya menurut Von Liszt, Berner dan Von Swinderen adalah bahwa dipandang secara objektif pada bebrapa delik tertentu itu kerugian material atau ideal dari orang yang secara langsung telah dirugikan harus lebih diutamakan daripada kerugian-kerugian lain pada umumnya. Menurut MvT (Memori van Teolichting), disyaratkannya suatu pengaduan pada beberapa delik tertentu itu adalah berdasarkan pertimbangan bahwa ikut campurnya penguasa di dalam suatu kasus tertentu itu mungkin akan mendatangkan kerugian yang lebih besar bagi kepentingan-kepentingan tertentu dari orang yang telah dirugikan daripada kenyataan, yakni jika penguasa telah tidak ikut campur di dalam kasus tertentu. Sehingga keputusan apakah seseorang yang telah merugikan itu perlu dituntut atau tidak oleh penguasa, hal tersebut diserahkan kepada pertimbangan orang yang telah merasa dirugikan.

Pembagian Delik Aduan

Delik aduan dibagi dalam dua jenis :

Delik aduan absolut (absolute klacht delict)

Menurut Tresna Delik aduan absolut adalah tiap-tiap kejahatan yang dilakukan, yang hanya akan dapat diadakan penuntutan oleh penuntut umum apabila telah diterima aduan dari yang berhak mengadukannya. Pompe mengemungkakan delik aduan absolut adalah delik yang pada dasarnya, adanya suatu pengaduan itu merupakan voorwaarde van vervolgbaarheir atau merupakan syarat agar pelakunya dapat dituntut.

Kejahatan-kejahatan yang termasuk dalamjenis delik aduan absolut seperti :

    1. Kejahatan penghinaan (Pasal 310 s/d 319 KUHP), kecuali penghinaan yang dilakukan oleh seseoarang terhadap seseorang pejabat pemerintah, yang waktu diadakan penghinaan tersebut dalam berdinas resmi. Si penghina dapat dituntut oleh jaksa tanpa menunggu aduan dari pejabat yang dihina.
    2. Kejahatan-kejahatan susila (Pasal 284, Pasal 287, Pasal 293 dana Pasal 332 KUHP).
    3. Kejahatan membuka rahasia (Paal 322 KUHP)

Delik aduan relatif (relatieve klacht delict)

Delik aduan relatif adalah kejahatan-kejahatan yang dilakukan, yang sebenarnya bukan merupakan kejahatan aduan, tetapi khusus terhadap hal-hal tertentu, justru diperlukan sebagai delik aduan. Menurut Pompe, delik aduan relatif adalah delik dimana adanya suatu pengaduan itu hanyalah merupakan suatu voorwaarde van vervolgbaarheir atau suatu syarat untuk dapat menuntut pelakunya, yaitu bilamana antara orang yang bersalah dengan orang yang dirugikan itu terdapat suatu hubungan yang bersifat khusus.

Umumnya delik aduan retalif ini hanya dapat terjadi dalam kejahatan-kejahatan seperti :

    1. Pencurian dalam keluarga, dan kajahatan terhadap harta kekayaan yang lain yang sejenis (Pasal 367 KUHP);
    2. Pemerasan dan ancaman (Pasal 370 KUHP);
    3. Penggelapan (Pasal 376 KUHP);
    4. Penipuan (Pasal 394 KUHP).

Beberapa hal perbedaan antara delik aduan absolut dengan delik aduan relatif :

  1. Delik aduan relatif ini penuntutan dapat dipisah-pisahkan, artinya bila ada beberapa orang yang melakukan kejahatan, tetapi penuntutan dapat dilakukan terhadap orang yang diingini oleh yang berhak mengajukan pengaduan. Sedangkan pada delik aduan absolut, bila yang satu dituntut, maka semua pelaku dari kejahatan itu harus dituntut juga.
  2. Pada delik aduan absolute, cukup apabila pengadu hanya menyebutkan peristiwanya saja, sedangkan pada delik aduan relatif, pengadu juga harus menyebutkan orang yang ia duga telah merugikan dirinya.
  3. Pengaduan pada delik aduan absolut tidak dapat di pecahkan (onsplitbaar), sedangkan Pengaduan pada delik aduan relatif dapat dipecahkan (splitbaar).

Pihak yang berhak mengajukan Pengaduan dan Tenggang Waktu Mengajukan Pengaduan

Pihak-pihak yang berhak mengajukan aduan dan jangka waktunya, dapat dilihat dalam ketentuan Pasal 72 KUHP seperti :

  1. Wakilnya yang sah dalam perkara sipil, atau wali, atau pengaduan orang tertentu (khusus untuk orang yang belum dewasa). Misalnya orang tua korban, pengacara, pengampu (curator) dan wali.
  2. Orang yang langsung dikenai kejahatan itu (korban).

Adapun tenggang waktu untuk mengajukan aduan tersebut diatur dalam Pasal 74 ayat (1) KUHP. Maksud Pasal 74 ayat (1) yaitu kalau seseorang mempunyai hak untuk mengajukan aduan, ia hanya boleh memasukan aduan tersebut paling lama dalam jangka waktu enam bulan setelah kejadian itu diketahuinya, tetapi kalau kebetulan ia berdiam di luar negeri, maka tenggang waktu itu paling lama sembilan bulan.

*sumber : Hukum Pidana, Syiah Kuala University Press-2009, Mukhlis-dkk.

About these ads
Tulisan ini dipublikasikan di Hukum. Tandai permalink.

8 Balasan ke DELIK ADUAN

  1. abdul berkata:

    Apakah masih bisa diadukan jika sudah lebih dr 6 bulan semenjak kejahatan diketahui oleh yang berhak mengadukan?

    • boyloy berkata:

      saudara abdul, untuk delik aduan tengang waktunya jelas dimuat dalam KUHP, yaitu pada pasal 74 ayat (1) “Pengaduan hanya boleh diajukan dalam waktu enam bulan sejak orang yang berhak mengadu mengetahui adanya kejahatan, jika bertempat tinggal di Indonesia, atau dalam waktu sembilan bulan jika bertempat tinggal di luar Indonesia.” pasal tersebut jelas menerangkan tengang waktu pengaduan “pengaduan hanya boleh diajukan….,” berarti diluar tengang waktu yang telah di sebutkan tidak boleh pengaduan. Jujur saya belum membaca undang2 KDRT…, KDRT juga termasuk kedalam delik aduan akan tetapi diatur dildalam peraturan sendiri, atau tidak termasuk kedalam KUHP, apa bila dalam UU-KDRT memuat tengang waktu tertentu maka pasal 74 ayat (1) KUHP tidak dapat berlaku terhadap KDRT.

      terimakasih saudara abdul, dengan komentar saudara saya terpacu untuk belajar dan membaca lagi…, semoga bisa bermanfaat, salam :)

  2. symon berkata:

    dalam poin delik aduan relatif ditulis suatu syarat untuk menuntut pelakunya bilamana ada hubungan khusus antara yg bersalah dan yg di rugikan, apakah ini jg berlaku untk kasus penipuan dlm hubungan dlam status pacaran ??????

    • boyloy berkata:

      hmm…, sepengetauan saya, hubungan khusus tersebut hubungan yang ada landasan hukumnya. Hubungan pacaran hingga saat ini belum ada aturan hukum yang mengaturnya. Hemat saya, hubungan pacaran tersebut tidak tergolong kedalam hubungan khusus yang dimaksud dalam point delik aduan. demikian yg dapat saya utarakan, terimakasih symon :)

  3. nopramisyahputra berkata:

    pengaduan tersebut di mulai sejak terjadinya kejahatan atau setelah diketahui adanya kejahatan,..
    Krn jika diketahui setelah adanya kejahatan, ini masyarakat atau pihak korban bisa di jadikan sebuah alat untuk mengadu yang sebenarnya hal itu sdah lewat waktunya dri waktu yg sudah ditentukan,..

  4. Giovani berkata:

    thanks……………………….

  5. muhammadjufris berkata:

    Istri saya di adukan oleh ibunya tentang penggelapan sedangkan bapak istri saya tidak mau melaporkan anaknya dan kejadiannya 3 tnn yang lalu,apa bisa mas?

    • boyloy berkata:

      salam, saudara muhammadjufris, untuk delik aduan mempunyai batas waktu. batas waktunya juga jelas disebutkan dalam rumusan peraturanya. hemat saya, jika masih dalam tengang waktu yang di tentukan oleh aturannya maka delik aduan masih berlaku. demikian yang dapat saya sampaikan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s